
JAKARTA, KOMPAS – Sistem rantai dingin untuk pengiriman komoditas memegang peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dan daya saing. Rantai dingin memungkinkan pangan tetap terjaga hingga ke konsumen. Namun, masih banyak tantangan dalam pengembangan rantai dingin di Tanah Air, mulai dari keandalan listrik hingga teknologi.
Kepala Bidang Logistik Cold Chain Perkumpulan Pelaku Logistik Indonesi
a (PPLI) Tejo Mulyono, dalam media briefing International Indonesia Seafood and Meat (IISM) and Indonesia Cold Chain, di Jakarta International Expo, Rabu (7/5/2025), menuturkan, sistem rantai dingin (cold chain) merupakan salah satu bidang yang sangat krusial dan penting untuk Indonesia. Kunci rantai dingin bagaimana mengatasi masalah food losses dan food waste.
Food losses artinya berkurangnya pangan akibat kerusakan saat pemanenan, pascapanen, kemudian kegiatan logistik, hingga pendistribusian ke pengguna. Sementara food waste adalah makanan yang terbuang.
”Food waste biasanya terjadi di rumah tangga, hotel, restoran, dan kafe. Di Indonesia termasuk besar. Berangkat dari itulah, PPLI terus mengembangkan ekosistem logistik pendingin di Indonesia,” ungkapnya.
PPLI memiliki program mengembangkan ekosistem pengiriman ritel untuk rantai dingin. Dengan demikian, para pelaku bisnis yang berukuran kecil, seperti warung, industri kecil dan menengah, bisa mengirimkan produk-produknya ke seluruh Indonesia. Pihaknya mencoba bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan.
Namun, banyak tantangan dalam pengembangan rantai dingin di Indonesia. Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai tantangan tersendiri, misalnya kekurangan infrastruktur, seperti gudang pendingin. Selain itu, sumber daya listrik yang tidak stabil. Kontainer pendingin rata-rata memerlukan daya 380 volt. Di Indonesia timur, voltasenya bisa turun hingga 20-40 volt.
”Kontainernya jadi panas-dingin,” ujarnya.
Tantangan lain sumber daya manusia ialah teknisi yang masih terbatas. Kemudian, di bidang teknologi. Bagaimana ke depan membangun rantai dingin menggunakan energi tenaga surya. Untuk itulah, pada tahun ini, universitas diundang guna mendorong pengembangan sistem rantai dingin.
Selain itu, terkait regulasi juga ada tantangan. Dalam keamanan pangan ada beberapa kementerian/lembaga yang berkepentingan. Mulai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Pertanian, Badan Karantina Indonesia, hingga Badan Pengawas Obat dan Makanan. Selain itu, juga Kementerian Perindustrian.
”Saya berharap semua aturan diintegrasikan. Yang tumpang tindih (regulasi) disederhanakan jadi satu. Kalau tidak seperti itu, produk olahan pangan tidak bisa ekspor dan malah kebanjiran (produk luar),” tutur Tejo.
Sistem rantai dingin memegang peranan penting dalam menjaga ketahanan pangan. Indeks ketahanan pangan Indonesia masih rendah. Apabila terjadi keadaan darurat, pangan yang tersedia hanya mencukupi kebutuhan warga Indonesia untuk seminggu saja. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya.
Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Erwin Dwijana menyebutkan, selama ada ikan, sistem rantai dingin pasti akan ada, bahkan terus berkembang. Sebab, ikan merupakan komoditas yang mudah rusak.
Sistem rantai dingin diperlukan untuk menjaga kesegaran ikan. Rantai dingin juga mencegah kontaminan. Ketika ingin mengekspor produk perikanan dalam bentuk segar dan memiliki daya saing, diperlukan sistem rantai dingin.
”Banyak negara importir mensyaratkan sistem jaminan mutu. Dengan sistem rantai dingin, produk tetap terjaga sehingga juga meningkatkan nilai ekonomi,” ucapnya.
Di samping itu, KKP juga dalam kebijakannya terus mendorong menjaga agar potensi perikanan, baik yang diekspor maupun diperjualbelikan di dalam negeri, mutunya tetap terjaga. Salah satunya, dengan sistem rantai dingin ini.
Indonesia negara kepulauan yang dibatasi laut. Distribusi ikan antarpulau perlu dijaga. Daerah Indonesia timur merupakan sentra produksi perikanan. Kemudian dibawa ke Jawa Timur dan Jakarta untuk dimanfaatkan dalam industri hingga konsumsi yang memerlukan sistem rantai dingin.

Memperkuat ekosistem
Sebagai upaya membangun dan memperkuat ekosistem rantai dingin di Indonesia, PT Wahana Kemalaniaga Makmur (WAKENI) menggelar empat pameran industri rantai dingin terintegrasi. Pameran itu diselenggarakan pada 7-10 Mei 2025 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta.
Penyelenggara menghadirkan lebih dari 250 perusahaan peserta dari dalam dan luar negeri, termasuk Indonesia, China, Swedia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, India, dan Korea Selatan. Target kehadiran lebih dari 30.000 pengunjung profesional dari seluruh ekosistem rantai pasok.
Direktur PT WAKENI Sofianto Widjaja menuturkan, pameran rantai dingin dan logistik menjadi momentum penting membangun dan memperkuat ekosistem rantai dingin di Tanah Air. Melalui pameran itu, pihaknya mengajak pelaku usaha bertransformasi bersama dalam proses penyimpanan dan pendistribusian produk pangan serta barang mudah rusak, baik di Indonesia maupun di pasar global.
Pameran kali ini mengusung tema ”WeAreColdChain”. Tema itu diusung sebagai upaya menyatukan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem rantai dingin yang lebih efisien dan tangguh.
Kolaborasi ini diharapkan memperkuat industri, khususnya mendukung ketahanan pangan nasional dan mengurangi potensi kehilangan hasil pascapanen. Selain itu, memperluas akses produk Indonesia ke pasar ekspor.
Di IISM Expo, pengunjung dapat menemukan berbagai produk makanan laut dan daging segar atau beku yang dikurasi. Ini termasuk protein alternatif, daging berbasis nabati, serta produk bersertifikat halal siap ekspor.
Perusahaan PT Rel-Ion Sterilization Service, Puresci Environment Technology Limited and Guangzhou Icesource, misalnya, menampilkan inovasi dalam hal pengawetan, perpanjangan kesegaran, dan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.
Inovasi juga datang dari PT Thermo Asri Makmur, PT Graha Teknik Mandiri, CRK Corporation, dan PT Sanwoo Electronics. Inovasi unggulan mencakup sistem pendingin berbasis IoT, unit pembeku kendali jarak jauh, hingga infrastruktur pendingin hemat energi yang siap diterapkan di wilayah kepulauan Indonesia.
Sementara di Warehousing and Storage Handling Expo, pengunjung dapat menjelajahi solusi pergudangan modern, mencakup sistem pelacakan inventaris berbasis teknologi serta berbagai peralatan penanganan material terkini. Perusahaan seperti PT Berca Mandiri Perkasa dan PT Pacific Vantage Indonesia serta Eurorack memamerkan solusi rak dan otomatisasi berperforma tinggi bagi pusat distribusi dan pengolahan pangan modern.
Tak hanya itu, Indonesia Smart Logistics and Supply Chain Expo menampilkan solusi logistik digital terbaru, sistem pengiriman last-mile berbasis akal imitasi (artificial intelligence/AI). Selain itu, juga teknologi pelacakan berbasis blockchain.
Terkait rantai dingin, Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi, pada Senin pekan lalu, mengatakan, penerapan rantai dingin sangat penting. Sebab, food losses and waste terjadi pada semua tahapan, baik produksi (pertanian dan perikanan), pascapanen, pengolahan, distribusi, maupun konsumsi.
SCI memperkirakan food losses and waste untuk buah dan sayuran di Indonesia pada tahapan pascapanen sekitar 10 persen dan distribusi sekitar 7,5 persen. Kerusakan sebesar itu mengurangi margin para pelaku usaha. Hal itu juga merugikan konsumen karena penurunan mutu dan kenaikan harga komoditas.
Bahkan, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyebutkan, food losses and waste secara global sebesar 20 persen pada komoditas daging, sebesar 45 persen pada buah dan sayuran, serta 35 persen pada ikan dan makanan laut (seafood).
source: kompas